kupluk belel

KUPLUK BELEL
Gita cewek tomboy, lahir dari sebuah keluarga terpandang di Negara tropis dimana Negara dengan letak wilayahnya yang begitu luas dan mempunyai penduduk kurang lebih dari dua ratus juta jiwa. Negara tempat Gita tinggal juga memiliki panorama dengan keindahan pantai, semilir angin laut yang berdesir melambai sepoi, ombak yang berderau, bergelombang seakan berkejaran dan berakhir di bibir pantai yang seolah sebagai garis finisnya. Negara yang penuh dengan keindahan alamnya, Negara yang penuh dengan kekayaan rempah-rempahnya, ya Negara itu adalah Indonesia.

Gita suka dengan gayanya yang urakan, seadanya. Dan selalu menyebut “this is my style” setiap kali ada orang yang memandang sinis penampilanya namun sikapnya tetap santun. Gita seorang mahasiswi di salah satu perguruan tinggi di daerahnya, dalam kesehariannya gita mengabiskan waktunya dengan melakukan kegiatan melukis, Gita pun mempunyai sebuah gallery, yang terletak tidak jauh dari rumahnya, lukisan-lukisanya ia pamerkan di gallery tersebut.

Sepatu butut, jaket lusuh, celana jeans dengan sedikit sobekan tepat di dengkulnya dan yang tidak pernah ketinggalan dalam gayanya adalah kupluk belel yang selalu melekat di kepalanya. Rambutnya panjang terurai tapi Gita lebih suka dengan memakai kupluknya.

Sandi sahabat kecil Gita adalah orang satu-satunya yang selalu mendampingi kemana Gita pergi, dia selalu setia mengikuti langkah dan kemauan Gita, itu dilakukan karena Sandi menyimpan rasa yang terpendam terhadap Gita, tapi sayang Sandi tak cukup lama bersama Gita karena belum sempat terucap rasa yang selama ini disimpan, Sandi terlebih dahulu pergi atas kehendak Sang pencipta. Sandi mengalami kecelakaan hebat sehari sebelum hari ulang tahun Gita, sepulang dari Mal tempat di mana Sandi membeli hadiah untuk Gita. Gita mengetahui setelah menemukan sebuah kotak dan buku harian Sandi yang rencananya akan diberikan tepat dihari ulang tahunnya.

Sebulan telah berlalu Gita pergi ke kota besar lainnya di Indonesia yang terletak sangat jauh dari daerah dimana Gita tinggal, yaitu Jakarta dia tiba pukul 06.00 Senin pagi di Bandara Sukarnoe Hatta. Gita pergi karena dia tidak mau berlama-lama mengenang masa-masa indah, bersama Sandi sahabat kecilnya, dalam perjalanan ketempat family di Jakarta Gita tersentak terkejut, dia melihat sesosok pria berwajah oriental yang wajahnya persis dengan Sandi tapi tidak dengan gaya atau stylenya.

“Sandi culun ga pernah tau mode, tapi kenapa dia gaul banget gayanya gila keren abiiiiiiisssss”

Gumamnya dalam hati. Gita mencoba mendekat, untuk menyapa.

“Hai”

Leo anak dari pengusaha garment terkenal, yang ga suka banget cewek dengan penampilan seadanya, berlainan dengan Sandi. Leo memandang setiap inci tubuh Gita dari ujung kepala sampai ujung sepatu belelnya, sontak Gita berkata.

”This is my style”

Lalu Leo dengan wajah sinisnya bergegas pergi masuk ke mersi billupnya. Gita pun kecewa dengan wajah yang lesu sambil gerutu.

“Apa yang salah dengan diri gw sih, ini kan gaya gw, this is my style, gw kira lo sama kayak sandi yang terima gw apa adanya ga taunya wajahnya doang yang sama hufffft….

Sesampai rumah family, atau lebih tepatnya adik dari mamah Gita, Dia disambut dengan mewah, Sherly anak dari tante Rara, atau lebih pasnya sepupu Gita, gayanya feminim cewek banget, beda dengan kakak sepupunya. Tiba-tiba handphone Sherly berbunyi, Sherly terlihat berbincang-bincang dengan seseorang yang meneleponya, Gita penasaran dan ingin tahu siapa yang meneleponnya, lalu sherly menutup teleponya, Gita bertanya.

“Siapa Sher?

“Leo kak”.

“Pacarmu”, “yayayaya” sambil bergegas Sherly meninggalkan Gita.

“Emhhhh dasar kamu Sher……????

“Sherly mau temani aku jalan-jalan….????? Seru Gita memelas

“Aduh, maaf kak aku ada janji dengan Leo…

Tanpa disadari olehnya siapa Leo….dia orang yang mirip dengan Sandi sahabatnya yang tlah tiada dan orang yang tlah memandangi Gita disudut kota tadi. Gita sontak terkejut untuk kedua kali ketika dia mencoba membuka pintu rumah yang sedari tadi berulang-ulang diketuk Leo.

Gita hanya menganga terpana tak bisa berkata-kata, seakan petir menyambarnya disiang bolong, mata Leo menatap tajam sehingga masuk lebih jauh kedalam hati Gita.

“Halo…….”

Gita masih dalam lamunannya, masih tak percaya siapa gerangan yang berada dihadapnya. Hingga Sherly menghampiri mereka.

“Hai sejak kapan kau datang ?, loh kak knp ga disuruh masuk??

“Aku telah menunggu lama berdiri disini”,

“Iya aku minta maaf”

Dengan hati yang berkecamuk Gita pergi meniggalkan mereka, menuju kamarnya.

“Oh Tuhan mengapa dia begitu mirip denganya”

Pagi telah menyapa burung berkicau, ayam pun mulai berkokok membangunkan Gita dari tidurnya. Terdengar bunyi ketukan pintu.

“Siapa”

“Aku sherly kak”

Sherly mengajak Gita keluar untuk mengantarnya shoping, tapi Gita sebenarnya malas keluar apa lagi hanya sekedar untuk shoping, Gita lebih suka nongkrong di cafe dari pada shoping.

“Hufttttttttt…..membosankan tapi apa boleh buat”

Sherly mempunyai rencana mengajak kakak sepupunya shoping dia ingin sekali merubah penampilan kakak sepupunya itu yang sebenarnya cantik bila tampilannya di rubah mungkin lebih cantik dari pada artis-artis yang menghiasai layar kaca. Sherly memilihkan berbagai gaun, kaos hingga sepatu hig heels untuk Gita namun selalu saja Gita tak suka semua itu dengan alasan terlalu feminim untuknya. Tapi usaha Sherly tak cukup sampai di situ dia terus berusaha sampai akhirnya Gita menuruti semua kemauan adik sepupunya itu.

“Waw cantik sekali”.

Salah satu pengunjung pria memuji tampilan Gita, dan beberapa pasang mata memandangi Gita dari yang bawa pasangan sampai bapak-bapak yang sudah berumur, sampai ada yang bertengkar dengan pasanganya hanya karena melihat cewek cantik yang bernama Gita. Sherly puas karena telah berhasil membuat kakaknya jadi pusat perhatian.

“Ternyata kmu cantik juga, wah siapapun pasti ingin memujimu kak.”

“Ahhhh kmu bisa aja Sher aku jadi malu,”

Rona merah membiasi pipi Gita hatinya berbunga karena setiap orang yang melihatnya melemparkan senyum indah ke arahnya.

Sesampainya di rumah, telah menanti seseorang pria yang membuat hati Gita gundah bila menatapnya yaitu Leo, sosok yang begitu mirip dengan Sandi, namun Sherly tak pernah mengetahui betapa miripnya wajah Leo dengan sahabat sepupunya tersebut, sorot matanya tajam menatap Gita yang telah di make over oleh Sherly, seraya pipi Gita kembali memerah, di sisi lain Sherly merasa ada tatapan yang lain tersirat di mata Leo, di ambilnya tindakan untuk menghadang laju tatapan Leo yang hampir singgah di hati Gita.

“Ehmmmm……. Halooooooooo!!!!!!!

Terpecahlah konsentrasi kedua insan yang telah lama saling bertatapan, sontak mereka kaget hingga Gita langsung masuk tanpa permisi, Sherly tak heran betapa terkesimanya Leo memperhatikan kakak sepupunya itu.

“Kenapa Leo?????

“Ternyata dia begitu cantik,”

Tanpa sadar terlontar dari mulut Leo mengagumi kecantikan cewek urakan yang selalu tampil apa adanya itu, yang ternyata bisa tampil cantik dan feminim.

“Apa…????

Sherly tampak begitu kesal saat Leo terus memendangi Gita seraya tak mau kehilangan pandangan yang sungguh luar biasa indahnya, hingga tak memperdulikan pacarnya sendiri. Sherly mencoba mengalihkan suasana dan mengajak Leo pergi tuk membeli sesuatu yang padahal tak tahu ingin membeli apa, sepanjang jalan Sherly mencoba berbincang dengan Leo, tapi pria itu hanya menggeleng dan mengangguk tanpa tahu apa yang di bicarakan kekasihnya karena yang ada di benaknya hanya cewek yang berpenampilan cantik nan feminim yang di lihatnya tadi. Sampai akhirnya Sherly tersadar bahwa pacarnya itu tak memperdulikan apa yang telah panjang lebar ia bicarakan.

“Hai……aku sedang berbicara denganmu,”

Dengan nada sedikit keras Sherly membentak Leo.

“Mengapa kau begitu kencang berteriak…”

Leo tak mau kalah membela diri agar tidak ketahuan bahwa dia sedang memikirkan Gita.

“Aku masih mendengar tanpa kau berteriak,”

“Kau tak mendengarkan aku, apa yang kau pikirkan ????

“Aku,’

Sambil menunjuk batang hidungnya sendiri dengan telunjuknya, Leo tampak kesal mendengar Sherly berteriak dan membuatnya kaget, masih dengan tampangnya yang kesal Leo meninggalkan Sherly.

“Hai kau mau kemana,”

Tanpa menengok, Leo bergegas pergi menuju parkiran, Sang kekasih di biarkan sendiri, karena hatinya telah benar-benar terpecah setelah ada hati lain yang menggangu pikiranya, Leo telah terlanjur kesal dengan suara teriakan Sherly hampir membuat jantungnya copot, namun bukan itu alasan yang sebenarnya, ya karena Gita. Sepanjang perjalanan yang bergelayut di benak Leo hanya gadis tomboy urakan dengan kupluk belel yang telah berubah menjadi wanita cantik dengan gayanya yang feminiim.

Leo masih asyik dengan lamunannya, sementara Sherly pulang sendiri dengan wajah yang kesal dan terisak berlinang air mata sambil memikirkan akan kah hubungannya berlanjut atau kah harus berakhir hanya karena masalah teriakannya tadi yang hampir membuat kekasihnya terkena serangan jantung. Sherly masih tak percaya apa yang telah terjadi sangat tak wajar, tapi dia tau apa yang telah ia lakukan salah, tapi tak seharusnya Leo meninggalkannya. Sherly bergegas mengambil handphone untuk menghubungi Leo, di sisi lain Gita mendengar perbincangan Sherly yang tersendat karena tangisan dengan penuh pengharapan maaf. Akhirnya Leo memaafkan Sherly dengan syarat tak boleh lagi membentaknya.

“Ya maaf aku janji takkan berkata keras lagi,”

“Apa aku boleh ke rumah mu sekarang?

“Untuk apa?


“Boleh,”

“OTW,”

Tanpa rasa curiga Sherly memperbolehkan kekasihnya tersebut berkunjung kerumahnya hanya tuk meminta maaf, tapi bukan itu tujuan Leo sebenarnya, ya ia hanya ingin melihat Gita kakak sepupu Sherly , sesampai di tempat kekasihnya tersebut Leo hanya memandang sekeliling rumah seakan ada sesuatu yang dicarinya, sesuatu makhluk indah yang membuat hatinya tak karuan, Sherly pun kebingungan dengan sikap kekasihnya tersebut, dengan menahan diri Sherly tak ingin segalanya terulang, hanya bertanya dalam hati apakah gerangan yang sedang di cari sang kekasih, akhirnya lelah Leo mencari dengan tatapan matanya yang berputar-putar, terlontar dari bibir Leo.

“Di mana Gita kakak sepupumu?

“ohhhhhhhh ternyata dari tadi mata kamu kesana kemari mencari kak Gita,”

Dengan nada sedikit keras namun agak hati-hati Sherly berkata.

“Lebih baik kamu pulang aja lagi, jika hanya mencari kak Gita,”

“Loh maksud kamu apa?

“Kurang jelas apa yang kukatakan, lebih baik kamu pulang, jika hanya mencari kak Gita,”

Sherly mulai kesal dengan sikap Leo yang mulai tak menghargainya sebagai kekasih, akhirnya Leo pulang tanpa menemukan Gita.

Minggu pagi hari begitu cerah dengan kicauan suara burung yang indah bersahutan, suasana di tempat wisata begitu ramai, banyak pengunjung yang melakukan jogging, bersepeda , senam dan pacaran, pagi itu Gita melakukan lari kecil di dekat tugu yang di hiasi bunga mawar dan bunga lili yang indah, tanpa di sengaja Leo juga melakukan lari di tempat itu, karena siapa pun senang berolah raga di tempat wisata tersebut, karena selain indah udaranya pun begitu sejuk, mereka saling bertemu saat kedunya melintasi tugu, langkah dari lari kecil itu terhenti, kedua tubuh itu berbalik berputar seratus delapan puluh derajat, merekapun dengan cepat akrab, bercanda, bergurau mesra. Tanpa disadari ada pasang mata yang sejak tadi memperhatikan mereka jauh disudut sana, tanpa disengaja Gita melihat, Sherly terkaget hatinya tercabik, dia pun lari dengan hati kecewa, Sherly berlari menyebrangi jalan raya tanpa di sadari bus melintas dengan cepat dan “BRAK” Sherly terhempas jatuh, tubuhnya penuh dengan darah yang menutupi sekujur tubuhnya, Sherly tak tertolong, dia tewas sebelum sempat sampai ke Rumah sakit Gita histeris hingga tak sanggup lagi tuk berkata, dia telah menyesal apa yang telah dirinya dan Leo lakukan, mereka menyimpan rasa yang sama, rasa yang seharusnya tak ada, yang seharusnya hanya ada Sherly dan Leo, namun kehadiranya hanya membawa duka untuk adik sepupunya.

Kini Leo pun telah menyadari bahwa apa yang telah ia lakukan salah ia telah mempermainkan cinta Sherly yang begitu mencintainya, bukan hanya itu ia pun telah sadar mengkhiyanati cintanya dengan memilih Gita sepupu Sherly.

Setelah kejadian tersebut Gita kembali ke daerah asalnya dan tak melanjutkan hubunganya dengan Leo, karena hanya membuatnya teringat adik sepupunya. Namun cinta yang dimiliki Gita dan Leo hanya diibaratkan sebuah pasir putih di pantai, makin di genggam pasir tersebut akan semakin habis digenggaman. Cinta tak harus memiliki, cinta juga tak mesti harus bersama, cinta yang indah membiarkannya terbang bebas terlepas, tanpa ada beban dan harus terikat dalam sebuah kekangan. Cinta dalam hati, cinta yang takkan terungkap meski dengan jelas tersirat dengan tatapan mata. Dan Gita pun kembali dengan stylenya yang urakan hanya dengan menggunakan sepatu butut, jaket lusuh, celana jeans dengan sedikit sobekan tepat di dengkulnya, dan yang tidak ketinggalan KUPLUK BELEL. Dengan berteriak sambil melompat.

“This is my style………………….”



-TAMAT-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RENA DAN PANGERAN CUPU

*LARUT*

"sebelum dirinya pergi"