RENA DAN PANGERAN CUPU

Pagi itu (senin 27 february) hari pertama masuk kuliah, nama gua Andika Nata Prawiryo, biasa di panggil dika, gua pindahan dari salah satu univ di ausey sebut saja university of cambridge, gua pindah karena memang ga’ betah tinggal sendiri disana walau serba kecukupan, namun saat ini kuliah di univ yang juga cukup tekenal di jakarta, sebenarnya dah cukup lama kangen sama kota kelahiran gua ini, terutama makanannya yang khas, tapi yang paling gua suka ketoprak (bukan kesenian). Sangking asyiknya menikmati ketoprak di kantin tempat kuliah, gua terkaget kenapa semua mata tertuju sama gua, ternyata mereka menatap cara makan yang menurut mereka ga’ wajar, secara cara dan selera makan gua itu seperti orang yang belum pernah makan (gerutu salah seorang cewek yang ada disebelah). Secara reflex gua tawarin mereka, “ada yang mau, gua yang bayarin (seru gua). Ternyata mereka ga’ menghiraukan tawaran itu, yang ada mereka malah jijik….. Setelah selesai menikmati makanan nikmat itu, gua bergegas menuju ruang kuliah, dan dosen yang katanya teman2 killer, masuk ruangan, suasana gaduh berubah menjadi hening, akhirnya…. “Andika Nata Prawiryo” “saya, pak!! Dosen killer itu memanggil nama gua dan dengan lantang menjawab karena terkaget, lantas sang dosen memperksilahkan mengenalkan diri, awalnya disuruh menggunakan bahasa inggris tapi gua bilang ga’ bisa, maklumlah ga’ terlalu ingin sombong siapa diri gua. Bisik bisik terdengar di telinga gua, “ itu kan yang tadi di kantin yang makan ketoprak”. Selesai jam kuliah gua bergegas menuju parkiran untuk mencari mercy bill up gua, ternyata memang gua yang error gua lupa bahwa pagi itu ga’ bawa mobil, dari belakang tedengar suara orang memanggil . “cupu”,,setelah gua tengok ternyata Bryan (katanya seh cowo paling keren dan kaya di univ tempat gua kuliah), tapi yang bikin gua percaya di sebelahnya berdiri dua wanita yang sebenarnya seh ga’ begitu menarik buat gua, tanpa menghiraukanya gua bergegas mencari ojek. Di perjalanan gua hanya bisa berkecamuk dalam hati, “sial tuh orang ngatain gua cupu,”. Ga’ terasa waktu terus berjalan sudah enam bulan gua di kota ini dan enam bulan pula kuliah di univ itu, Saat siang pukul 13.30, gua bergegas untuk beranjak pulang, ketika di depan loby kampus langkah terhenti tak tahu apa yang membuat langkah ini terhenti ketika melihat sesosok peri cantik berselimutkan gaun berwarna pink yang sisi belakangnya terbuka lebar, kulitnya putih mulus, matanya agak sayu, hidung dan bibirnya begitu imut, layak nya boneka berby, jantung berdebar kencang setelah dia sempat menatap mata gua, walau sejenak namun langsung menusuk kejantung, otak dan hati langsung aja berdiskusi, andai bisa memilikinya pasti gua ga’ akan menyia-nyiakan peri itu dan akan setia di suruh apa aja, dan ga’ akan biarin dia jalan sendirian. Entah kenapa tiba-tiba merasa bosan berada di rumah malam itu, dengan tidak berpikir lagi langsung ganti pakaian untuk mencoba mencari hiburan di luar, 1 jam puterin kota Jakarta dengan menggunakan mercy bill up, kali ini gua mencoba kembali dengan gaya terkeren, bukan gaya si cupu, yang dah sering terdengar di tempat kampus, kali ini lebih banyak wanita cantik yang memandang dengan nakal bukan jijik lagi, langsung otak ini berkerja, untuk berfikir, ternyata tampilan itu berpengaruh untuk melunakan hati seorang wanita, tapi gua pun dah bosan dengan tampilan seperti ini karena memang di ausey selalu tampil seperti ini, akhirnya gua memutuskan untuk bepenampilan seadanya dan tetap sopan rapih, namun memang agak sedikit seperti orang cupu (culun punya) terutama waktu berada di kampus. Malam itu ada satu yang menarik perhatian, sosok peri yang pernah menatap di kampus, dia berada diantara kumpulan wanita seksi di café tempat makan (setelah beberapa jam mencari tempat atau café untuk mengisi perut) beberapa wanita diantaranya mencoba melirik, namun si peri tak menghiraukan rekan-rekannya yang lain yang sedang mencuri pandang sama gua, akhirnya memberanikan diri tuk melambaikan tangan dan apa yang terjadi dua diantara lima wanita itu berjalan kearah gua, sumpah jantung sempat berdebar (tapi coba tetap rilexs). “hai,” “hai juga,” “boleh duduk,” “yupz,” Akhirnya berkenalan dengan dua wanita tersebut (lumayan cantik),Dita wanita yang pertama menyodorkan tangannya, parasnya begitu ayu kulitnya putih agak sedikit agresif, langsung dalam benak yang ada ngejust (wah neh cewek bispak kali ya secara pakaian terbuka, rok mini cara berkenalan pun agresif banget), sedangkan Merry wanita yang parasnya seh ga’ begitu menarik kulitnya sawo matang tapi manis, namun ga’ kalah agresif dengan Dita. “maaf boleh tanya, wanita yang memakai gaun merah yang mengahadap kesamping siapa???? “gladis maksud lo, knp lo naksir sama dia, udah sama gua aja lo ga’ bakal bisa ngedapatin dia, walau pun lo keren dia orangnya pemilih and perfeksionis banget,” “oya, gua banget tuh,” Semakin tertantang tuk ngedapatin tuh peri cantik, akhirnya gua beranjak dari café dengan memberikan nomor hape (nomor palsu khusus buat wanita ga’ jelas macam Dita dan Merry). Pagi menjelang setelah terlelap tidur semalam, hari ini aktifitas penuh jadwal kegiatan dah menunggu, gua yang sebenarnya malas dengan segala yang berbau lelah namun ga’ tau kenapa semangat muncul ketika teringat peri cantik yang selalu mengganggu pikiran, perjalanan ke kampus semakin terasa bergelora saat memutar lagu dari Numata raja jatuh cinta. “Wah pas nih lagu, raja jatuh cinta, namun yang ini, pangeran cupu jatuh cinta,” Sesampai di kampus tanpa di duga peri cantik itu menyapa, “hai,” “hai juga,” Tanpa terbata gua menyahut sapaan peri cantik itu, sepanjang jalan ke ruang kelas masing-masing gua dan peri ngobrol panjang lebar, ternyata dia orang yang ramah, dan ternyata namanya Gladis Renasta, gua memanggilnya Rena. Sepanjang jalan itu pula semua mata menatap Pangeran cupu dan Rena, yang sedang berjalan beriringan,(mupeng gitu deh) secara wanita bertubuh seksi itu inceran para pria keren di kampus, namun tak pernah ada yang berhasil menggandeng atau sekedar berjalan beriringan dengannya hanya gua yang berhasil si “Pangeran cupu” (sebuah kebanggaan sendiri buat gw), emang terlihat cupu disini tapi itu lah trik untuk mendapatkan Rena (peri cantik). Ternyata ga sulit mendapatkanya, Rena memang gadis dari kalangan menengah atas dan gua pun telah menduga itu sebelumnya, namun yang ga’ pernah tahu dia itu anti sama cowo keren and tajir, sialnya lagi dia suka sama gua, karena gaya yang culun (menurutnya dan menurut temen2 di kampus, konyol banget). Tapi gua ga’ kecewa karena memang misi seperti itu, ga’ mau melihat mereka deket dengan gua karena ke tajiran (lebih pasnya lagi nyamar jadi orang sederhana gitu lah). Sebulan telah berlalu kedekatan sama si peri cantik yang bernama Rena semakin intim bahkan kita berdua telah resmi pacaran, ga’ di pungkiri gaya pacaran kita pun melebihi batas (maklumlah anak muda sekarang), namun seiring waktu berjalan Rena mulai curiga dengan gaya hidup gua yang kadang ga’ culun karena gua juga sering lupa menampilkan gaya culun, dengan cara hidup layaknya seorang pria tajir (yang hidup serba kecukupan), tapi itu semua bisa di tutupin dengan kecerdikan, akhirnya bergumam dalam hati,”( seandainya lo tau siapa gua sebenarnya, gua pun sama dengan mereka, begitu juga dengan gaya hidup, tapi misi berbeda dengan mereka Ren….),” Pagi itu di depan lobi kampus tepatnya di depan madding terdapat kerumunan para mahasiswa yang sedang berdesakan, gua pun tertarik penasaran ada apa gerangan yang membuat mereka berkumpul berdesakan, apa ada berita yang menghebohkan fikir gua sembari berlari menuju mereka, turut berdesakan hingga akhirnya bisa lebih jelas melihat berita tersebut, ternyata hanya informasi tentang sebuah acara pesta ultah anak pengurus yayasan yaitu si Bryan dan dalam pesta tersebut di gelar pula festival kostum unik dan setiap undangan berhak mengikuti festival tersebut. “Wah bakalan seru neh,” gumam gua, akhirnya gua pergi mencari Rena untuk menanyakan apakah dia sudah tahu tentang undangan ini, apa kiranya yang akan dia kenakan nanti. Belum sempat masuk ruangan kelasnya gua melihat Bryan sedang berbicara dengannya, akhirnya langkah terhenti, dan hanya memperhatikan mereka dari kejauhan,. Bryan pun pergi meninggalkan Rena, dengan wajah yang penasaran gua menanyakan, “tadi aku lihat kau berbicara dengan Bryan,” “apa yang kalian bicarakan??/ “dia mengundang ku ke pesta ultah nya,” “apa kau juga di undang ??/ “tidak aku hanya melihat nya di madding,” “lalu, apa kau akan datang??/ “tidak jika tidak bersama kau,” Aku pun berbisik, ”kita akan datang bersama sayang,” Rena pun tersenyum manja, gua rasa dia bukan suka karena ke culunan gua tapi benar-benar dari hati, suasana begitu indah ketika dia memeluk dan gua ga’ membuang kesempatan untuk memeluk dan menciumnya, apalagi saat itu ruang masih belum banyak yang datang, serasa hanya ada si pangeran cupu dan peri cantik yang bernama Rena, to be continue.......

Komentar

Postingan populer dari blog ini

*LARUT*

"sebelum dirinya pergi"