cinta sang oficce girl

Senin pukul 07.00, jalanan di kota besar itu sangat padat, bukan hanya sekedar bus, motor atau pun mobil pribadi yang memadati jalanan itu, para pejalan kaki, pengemis, pengamen dan pedagang asongan pun ikut meramaikan suasana pagi itu, sungguh suasana yang sangat membisingkan, kepulan asap yang berasal dari kenalpot bus yang begitu hitam membuat kesejukan udara pagi tak terasa, asap rokok yang dapat merusak kesehatan pun sangat terasa memuakan bagi Asri. Tak terasa hampir setengah jam jalanan macet, bunyi suara klakson dari mobil dan motor lain pun membuat kemacetan semakin parah, bahkan makin membuat tak nyaman setiap pengendara dan penumpang, wajar saja jika di sebut “I don’t like Monday” mungkin karena suasana seperti itu yang tak disukai banyak orang jika Senin pagi tiba, ya termasuk cewek yang bekerja di salah satu perusahaan ternama di kota tersebut walau hanya sebagai “OB” namun riasan di wajahnya tak kalah dengan seorang sekretaris bos. Setibanya di halte depan kantor ia pun bergegas menuju lobi karena terburu-buru menuju tempatnya bekerja, Asri sang OB itu tak melihat kanan atau kiri, tiba-tiba mobil dari arah pintu masuk dengan mendadak berada tepat disisinya, karena sadar dirinya yang bersalah ia segera berlari masuk ke kantor tanpa meminta maaf, sang pengendara hanya dongkol dan memarahinya dalam mobil, tapi kemarahanya sia-sia karena Asri telah masuk dan tak terlihat. Masih dengan kesalnya sang pengendara bergegas menuju tempat parkir VIP, dan ternyata pengendara tersebut adalah seorang direktur utama yang baru di perusahaan sang OB bekerja, terlebih sang Dirut seorang yang temperamental, tak pernah sedikit pun ia tersenyum pada karyawanya, seluruh karyawan belum ada yang mengetahui siapa Dirut di perusahaannya, karena memang Dirut yang lama belum mengumumkan siapa pengganti beliau,. Ketika seluruh karyawan dan Direksi menuju ruang rapat tak tertinggal para OB ikut serta dalam rapat tersebut, karena selain mengadakan rapat, disana juga diadakan serah terima Dirut lama ke Dirut baru, Dirut baru itu ternyata anak tunggal dari Dirut lama, tersontak para karyawan terkaget-kaget karena orang yang sombong tadi ternyata Dirut baru mereka, tanda tanya besar tergambar di benak para karyawan, pertanyaan yang tergambar di benak mereka pun sama, “setiap hari bakal kena omelan terus nih emhhhhhhhh………!!!!!!!!!!!!! Tak tertinggal dengan rekannya Asri pun ikut bergumam dalam hati, “astaga kayak nya kenal tapi dimana ya…..???? Sang dirut muda terbelalak saat ia melihat salah satu pegawainya yang tadi pagi hampir membuat jantungnya terlepas, yaitu Asri. Tersadar ia telah di pandang oleh sang dirut dengan tajam seolah ingin menerkamnya, Asri langsung menunduk ciut, rasa bersalah kembali menyerangnya. Acara serah terima pun telah selesai tepat pukul 14.00, para karyawan langsung bergegas ketempat kerja mereka masing-masing, begitu pula dengan Asri, belum sempat ia menuju dapur tempatnya bekerja tiba-tiba sosok pria telah berada di hadapnya, “emhhh….kamu yang tadi pagi ya,” Dengan nada sedikit membentak sang dirut menegurnya “be…be…betul pak, ma…maafkan saya atas kejadian tadi pagi saya terburu-buru,” Dengan terbata Asri meminta maaf atas kesalahanya, namun sang dirut langsung meninggalkanya tanpa sepatah kata pun, Asri pun merasa lega karena sudah meminta maaf meski dia tau tak akan di jawab permohonan maaf nya, yang penting bagi Asri tidak di pecat saja sudah syukur. Sore dengan cuaca yang kurang bersahabat Asri bergegas meninggalkan kantor, namun dia tak mengetahui bahwa cuaca di luar sedang mendung tebal, Asri tak membawa payung, untuk melindungi dirinya dari serangan hujan, dengan terburu-buru Asri pun berlari menuju halte, namun lagi-lagi sial menghampirinya hari itu, dengan kecepatan tinggi tiba-tiba mobil melesat di jalanan yang becek dan berair, tersontak Asri pun terciprat air jalanan, “dasar m****t mentang-mentang bawa mobil jalan main ngebut aja,” Tak tersadar dengan ucapan yang di lontarkannya, Asri mencemooh sang pengendara hingga dia berada di rumah, dan tanpa dia sadari pula bahwa sang pengendara adalah sang bos atau dirut perusahaan tempatnya bekerja disisi lain sang dirut terbahak-bahak atas apa yang telah di perbuat olehnya terhadap Asri, “hahahhahaha, biar tau rasa si “OB” (office girl) centil itu,” Keesokan hari sang dirut memanggil Asri untuk membersihkan dan menghantar secangkir kopi hangat, di ketuknya pintu. “tok…tok…” “masuk,” “permisi pak,” “ya….taruh saja di meja,” Tanpa menoleh sang bos menyuruh Asri meletakkan pesanannya di meja kerjanya, namun tanpa di sengaja secangkir kopi tersebut terjatuh di meja kerja sang dirut entah apa yang membuat kopi terjatuh, mungkin Asri terlalu nervous atau takut, sang dirut dan Asri terkaget, lalu dia berdiri menatap tajam mata Asri yang sedang tertunduk sambil mengatakan maaf berkali-kali, dengan segera membersihkan meja sang dirut, namun apa yang dilakukan sang dirut malah membuatnya tak keruan, sang dirut tidak lantas memarahinya namun ikut membantu membersihkan mejanya, “makanya kalau bekerja hati-hati, untung kamu cantik jadi aku tak tega memarahimu,” Asri bergumam dalam hati ternyata seperti itulah alasan sang bos tak memarahinya, namun mukanya memerah saat sang bos mengajak nya makan malam nanti, “nama kamu Asri ya…?? “sebagai hukuman, kamu harus mau makan malam dengan ku nanti malam gimana, kamu mau?? Dengan pelan dan berhati-hati Asri mengangguk dan berkata, “baik pak,” Asri tak pernah habis pikir, entah apa rencana sang dirut tersebut yang dengan tiba-tiba bersikap baik, berubah seratus delapan puluh derajat dari sifatnya yang temperament. Masih dengan tidak percayanya Asri mencoba kembali bertanya kepada sang dirut sambil tersenyum, “nanti malam jadi pak..?? Dia membalas dengan senyuman dan berkata, “sampai nanti malam cantik,” Malam telah menjelang Asri memakai gaun yang sangat seksi malam itu, tak heran jika dia memiliki baju-baju yang seksi, dan bermode walau dia hanya seorang office girl namun baginya penampilan tetap nomor satu. Jam telah menujukkan angka 8.00 namun sang dirut masih juga belum menjemputnya, berkali-kali dia berpose di depan cermin, entah sudah yang ke berapa kali dia merapikan rambutnya, “din……dinnnn….dinnn….” Terdengar beberapa kali klakson mobil berbunyi, Asri dengan perasaan yang tegang berjalan keluar untuk melihat siapa yang membunyikan klakson, ternyata benar sang dirut datang menjemputnya. Sang dirut tak berkedip melihat Asri yang dibalut gaun seksi dengan belahan dada yang cukup membuat matanya tak dapat terpejam meski hanya sekejap, pria mana pun tak kan percaya, siapa seseorang yang sedang memakai gaun nan seksi tersebut, karena memang wajah dan tubuh Asri yang sangat mulus tanpa setitik luka, yang ternyata hanya seorang office girl. “cantik….perfecto……” Berkali-kali sang bos memuji si Asri, dengan sesekali melirik kebelahan dada nya, benaknya mulai tak beres memikirkan hal-hal aneh namun dengan cepat dia tersadar, bahwa wanita yang sedang berada di sebelahnya seseorang bawahanya, dan dia sangat menghormati wanita, kini sang bos mulai membuka pembicaraan dari bertanya tentang keluarga hingga samapai hal yang privasi, namun ketika sang bos bertanya tentang pacar, Asri menjawab dengan sangat lembut dan pelan, entah apa yang membuatnya menjawab selembut dan sepelan itu hingga sang bos mengulang. “apa….?? “belum..pak,” “sorry Asri, tolong jangan pakai pak….karena ini bukan di kantor panggil saja Pras, oke” “tapi..pak eh Pras…” “nah gtu…” Dalam perjalanan keduanya semakin terhanyut dalam pembicaraan, yang lebih intens, Asri gugup dan dadanya terasa berdegup kencang ketika tangan Pras meremas tangan Asri,tak lama kemudian tangan Asri yang satunya menyingkirkan tangan Pras yang sedang memegang tangannya, sikapnya pun menjadi tak keruan, serasa dia ingin membiarkan tangan Pras terus memegangnya, namun dia tak mau terlihat seolah dia suka apa yang telah Pras lakukan, “Asri, kenapa kok kamu terlihat tegang, muka mu pun pucat pasi, apa kamu sakit..? Tanya Pras seolah dia tak mengetahui bahwa apa yang terlihat karena perlakuannya yang tak terduga. “kamu tau awalnya aku membenci kamu karena peristiwa pagi itu, dan saat kau menumpahkan kopi ke meja kerjaku, tapi melihat kecantikan kamu dan ketulusan kamu meminta maaf aku jadi tak bisa marah terhadapmu,Asri,” Tangan Pras kembali meremas tangannya, kali ini Asri tak bisa menolak, karena Pras pun dengan cepat melumat bibir tipis Asri, dia membalas lumatan bibir Pras, hingga tak tersadar mereka saling berpagutan di dalam mobil yang telah menepi, hingga Asri tersadar dan melepaskan bibirnya, “apa kau sering mencium bibir wanita di tempat seperti ini? Tanya Asri, “tidak, bahkan baru kali ini aku mencium wanita,” “atau mungkin kamu yang sering di cium oleh pria lain, di tempat seperti ini..? “ahhh…sialan kau Pras, aku memang pernah berciuman tapi itu dulu sudah lama sekali,’ “apa kau suka..? Tanya Pras, namun Asri tak menjawab dia hanya mengangguk kecil, Pras pun hanya tersenyum puas. Sesampai di tempat makan mereka berdua memesan makanan yang sama, karena ternyata mereka mempunyai selera dan kesukaan makanan yang sama,(salah satu bentuk chemistry). Setelah menikmati makan malam mereka bergegas kembali ke rumah dan Pras menghantarkan sampai rumahnya dengan kembali mengecup bibir Asri namun kali ini mereka lebih lama saling berpagutan, hingga akhirnya Pras mengucapkan, “goodnight beib, have a nice dream, honey,” Asri hanya tersenyum,dan bergegas masuk kedalam rumah dengan perasaan yang tak menentu, dia belum percaya apa yang telah terjadi tadi, sang direktur utama dan seorang office girl bercumbu dan bermesraan bahkan mereka saling jatuh cinta, bagai langit dan bumi. Semalaman Asri hanya mengingat apa yang terjadi tadi sampai dia terlelap hingga pagi menjelang. Jam sudah menunjukan pukul 08.15, Asri baru terbangun dari tidurnya dia tersadar kalau dirinya telah terlambat masuk kantor, karena terburu-buru dia sampai terlupa membawa baju kerjanya, karena memang Asri tak pernah langsung memakai baju kerjanya. Sesampainya di kantor dia di marahi oleh suvervisornya, terlebih saat mengetahui kalau dia telah lupa membawa baju kerjanya, namun saat Asri sedang di marahi oleh suvervisornya sang dirut dengan tiba-tiba muncul di belakangnya dan berkata, “Asri bisa ke ruangan saya sebentar ada yang saya mau bicarakan,” “tapi pak Asri tak memebawa baju kerjanya,” sang suvervisor dengan lantang memberi tahunya. “ohhh…ya saya yang menyuruh dia untuk tidak membawa baju kerjanya karena memang saya ada perlu dengannya hari ini,” Sambil berjalan menuju ruang dirut Asri meledek sang suvervisor dengan bibirnya, tanpa dia sadari sang dirut melihatnya, ketika di dalam ruangan Pras yang kini diam-diam sudah menaruh hati pada office girlnya itu, menegur dengan lembut, “kamu pasti telat dan lupa ya dengan aktifitasmu pagi ini, aku maklum kok karena memang kita terlalu larut pulang tadi malam, atau kau bermimpi bermesraan denganku hingga pagi,” “semuanya betul kok, aku telat karena bangun kesiangan dan bermimpi melanjutkan kemesraan itu, hahahahahaha…..” Mereka berdua tertawa dengan bersama, sampai akhirnya sang dirut kembali mendekatkan wajahnya ke wajah Asri, sontak Asri pun tau apa yang akan dia lakukan dengan dirinya, Asri pun dengan cepat merespon kedekatan sang dirut dengan melumat bibirnya terlebih dahulu, mereka saling berpagut mesra hingga satu jam lamanya, setelah itu sang dirut mengeluarkan sesuatu dari saku celananya, yang ternyata sebuah kotak yang berbalut dengan pita, dengan sekuntum bunga mawar yang telah di sediakannya di meja kerjanya, sambil berkata "apa kau mau menjadi pacarku, Asri terdiam untuk beberapa saat,lalu dia menjawab sambil tertunduk, “apa kau serius, aku sadar kalau aku hanya seorang office girl dan kau adalah bos ku, tak mungkin kita bisa menjalin hubungan ini,” Pras memeluk dengan erat, Asri pun tak bisa berbuat apa-apa dia hanya terdiam, karena memang Asri sebenarnya mencintai Pras tapi dia sadar bahwa statusnya sebagai pegawai rendahan di kantor tersebut, dan Pras menjelaskan bahwa dia tak ingin ambil pusing dengan status diantara mereka berdua, karena menurutnya “cinta tak memandang usia tak memandang kelas atau golongan bahkan status” dia akan merelakan semua, meski cemoohan sekali pun dari keluarganya yang terbilang cukup terpandang itu. Cukup lama mereka berada dalam satu ruangan, sementara di luar sana para karyawan sedang membicarakannya, hingga mereka tersadar kalau mereka telah berada dalam satu ruangan yang cukup lama, Asri bergegas pamit untuk keluar dan menuju ruangan yang sebenarnya yaitu ruang ofiice girl, para karyawan lainnya memandang Asri dengan sangat sinis hingga teman-teman satu profesi, sang severvisor menegur Asri, “apa yang aku lakukan di dalam dengannya…?? “maksudmu..?? “ahhh…sudahlah kau tak usah mengelak, aku tau kok apa yang kalian lakukan..?? “tau apa kau dengan urusanku, urus lah urusanmu sendiri,” “heiiiii….bangun dari mimpimu, apa kau tak sadar siapa kau dan siapa dia,” “apa kau mau hanya jadi mainan sang bos,” “emhh….emhh…emhh,,,,” “san….kau keruangan ku,” Pras sang dirut mendengar percakapan antara Sandra dan Asri, lalu Sandra di panggil untuk menghadapnya, Sandra tergugup dan langsung meminta maaf apa yang dia lakukan pada Asri, “apa yang kau katakan, pada Asri kau masih betah bekerja di sini atau kau sudah bosan..?? “maaf pak, ma…masih pak,” “jika ku dengar kau menghujatnya lagi aku tak segan mendepakmu dari sini,” Pagi selanjutnya sang dirut kembali mencari Asri untuk membicarakan tentang percakapannya kemarin namun Asri kala itu tak masuk kerja, dia faham kalau Asri tak masuk mungkin sakit atau apalah, hingga hari berikutnya Asri tak juga kembali bekerja, Pras penasaran mengapa dia tak juga bekerja seperti biasa, apa ada masalah hingga berhari-hari Asri tak kunjung terlihat di kantor, berkali-kali dia coba menghubungi handphonenya, namun selalu saja mailbox yang menjawab atau si veronica, kini dia coba mencari ke rumah kontrakan Asri, apa yang dia dapatkan Asri tak berada di sana, “maaf, cari Asri…?? “oohhh…ia betul, apa kau tau dimana dia..?? “dia sudah tak tinggal di sini pak, dia kembali ke rumahnya,” Jawab tetangga Asri yang sama-sama ngontrak di rumah tersebut, lalu dia menanyakan di mana, rumahnya, akhirnya Pras mendapatkan alamat rumah Asri, tanpa berpikir dia langsung tancap gas, setelah bertanya beberapa kali akhirnya Pras menemukan sebuah rumah yang cukup bagus, dengan di kelilingi pagar yang besar, dan terdapat taman yang indah, dia hampir tak percaya, kalau ini rumahnya Asri, hingga akhirnya sebuah mobil BMW merah berhenti, pintu terbuka lalu turunlah sesosok wanita cantik memakai rok mini dan blous yang seksi dengan memakai kaca mata hitam, Pras tertegun melihatnya seraya dia mengenal sosok wanita tersebut namun, dia masih belum percaya, benarkah yang dia lihat Asri? “Asri…..” “Pras…..” “kau..” “ia, maafkan aku Pras, aku bisa menjelaskan semua,” “tak perlu kau jelaskan, karena aku takkan marah, karena memang aku tak pernah bisa marah denganmu,” Asri menyuruh Pras masuk kerumahnya, dan mereka berbincang cukup lama, kali ini kedekatan mereka benar-benar tanpa perbedaan, bahkan mereka bukan lagi bagai langit dan bumi melebihi bagai matahari dan bulan saling melengkapi saling menyinari dan menerangi, Asri menjelaskan bagaimana dia bisa berada di kantor tempatnya bekerja dan menjadi seorang office girl, lalu Pras pun mengerti setelah Asri menjelaskan duduk perkaranya, akhirnya Pras berencana untuk melamar Asri,dan Asri sangat senang mendengarnya kali ini dia tak pikir panjang, mereka semakin mesra dan bahkan saat ini yang mereka lakukan lebih dari sekedar ciuman (terjemahkan sendiri). Juni, 08, 2009.Pras melamar Asri, mereka berencana menikah di awal tahun depan, dan berencana bulan madu ke Singapura. Asri adalah anak dari seorang pengusaha, pengusaha tersebut(ayahnya Asri) ingin menjodohkan anaknya dengan anak temanya semasa SMA yang notabene ternyata ayahnya Pras namun Asri punya cara tesendiri untuk benar-benar meyakini kalau Pras itu orang baik dan layak menjadi suaminya, dengan caranya itu, Asri bekerja di perusahaannya Pras, tentu dengan persetujuan ayahnya Pras, tanpa sepengetahuan siapa pun termasuk rekan-rekan kerja Asri,dia bekerja sebagai seorang office girl yang akhirnya benar-benar mencintai Pras sang direktur utama. Kini Pras dan Asri telah berbahagia, mereka menikah dan menetap di singapura, tempat yang rencananya hanya untuk bulan madu namun karena tempatnya nyaman mereka memutuskan untuk menetap disana, mereka sangat bahagia, dan selalu mengenang bagaimana cara mereka bertemu, menurutnya pertemuan mereka adalah sebuah rekayasa yang sungguh sempurna.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RENA DAN PANGERAN CUPU

*LARUT*

"sebelum dirinya pergi"