Tersandung Cinta Renata

Bukit terjal di tumbuhi pepohonan dan bebatuan besar, kerikil halus nan tajam pun tampak bagai pernak-pernik alam yang berkelip saat sorotan sunset menyinari bukit itu, hiasan awan cerah, pelangi senja membentuk setengah lingkaran dengan goresan warna-warni yang begitu memanjakan mata, laut yang membentang bagai penyeimbang segala kesempurnaan bumi, saat mata dimanjakan dengan semua lukisan alam itu mata ini tak ingin pernah berkedip meski sedetik pun. Jimmy pemuda yang mempunyai perawakan indo belanda yang hidup penuh dengan kesederhanaan, meski pada dasarnya ia memiliki segalanya, namun tak membuat dirinya sombong, karena ketidak sombongan tersebut tak heran jika Jimmy mempunyai banyak teman, bahkan wanita-wanita yang mengenalnya ingin sekali untuk menjadikan kekasih, Allicia salah satunya, teman SMA Jimmy yang selalu berharap mendapatkan perhatian darinya, namun Jimmy selalu saja bersikap seolah tak memberi dirinya harapan lebih, bukan karena dia sombong, Jimmy tak ingin ada kesalahpahaman nantinya. Dion adalah sahabat terdekatnya yang selalu saja menjadi benalu dalam kehidupan Jimmy, namun tak pernah ada pertengkaran di antara mereka, Dion selalu saja membuat Jimmy kewalahan dengan masalah yang dibeban kan Dion olehnya, Gladis adalah perumpuan berwajah manis yang selalu jadi sorotan pria-pria di kampus tempat Dion kuliah, namun tak pernah ada yang bisa mendekati selain Dion , bukan karena ketampanan yang di suguhkan oleh Dion tapi karena kepiawaiannya berkata- kata, yang memang gombal banget, bukan hanya kata-katanya namun penampilan Dion yang berlagak seperti anak seorang pengusaha, padahal apa yang disuguhkan hanya barang pinjeman, barang pinjaman dari seorang sahabat . “Hai jim, gw ada sedikit masalah dengan Gladis neh,” “Kenapa lagi sih gay?” Jimmy menyebut Dion dengan sebutan gay karena nama dari Dion dipelesetkan oleh Jimmy, yang seharusnya Dion Prayoga menjadi Prayogay, mungkin lebih enak di dengar dari pada gi menurut Jimmy. “Gladis, loe kenal kan, masalah besar nih Jim,” “maksud loe apa sih? “ Bisa tenang sedikit gay, loe certain dari awal atau loe minum dulu deh,” Dion menjelaskan panjang lebar masalahnya dengan Gladis, namun Jimmy mengetahui sebelum Dion menjelaskan lebih lanjut masalahnya. “Oke gw tau yang loe maksud, gw harus bantu loe cari orang tua bohongan buat loe gitu? “Nah pinter banget loe, gimana sob bisa kan loe cariin? Jimmy tersenyap seolah membantu berfikir untuk sahabatnya yang sedang bermasalah karena ulahnya sendiri yang sombong, namun ternyata Jimmy meminta pengampunan kepada Tuhan. “Ya Tuhan masalah apa lagi yang Dion datangkan untukku,” “ Woi, mikir sih mikir jangan kelamaan gitu dong,” Dion mengagetkan lamunan Jimmy sontak Jimmy pun terkaget karenanya. “Astaga, gila loe gay, hampir copot jantung gw,” “Habis loe mikir apa ngelamun? “Ya, mikirlah,” Setelah lama berfikr akhirnya Jimmy mempunyai ide yang tidak pernah terpikir oleh Dion, mungkin ide gila Jimmy akan berhasil, namun sekali lagi Jimmy berkorban demi sahabatnya. “Nah…….,” Sambil menepuk pundak Dion Jimmy berteriak kencang, seraya membalas kekagetan yang telah di buat oleh Dion tadi. “Mati loe, eh mati loe, gimana bro, ada ide? Seru Dion berharap ide yang di keluarkan Jimmy betul-betul ide cemerlang. “Gimana kalo bokap nyokap gw yang pura-pura jadi , secara loe kan deket banget tuh sama mereka,” “Ide gila, mau taro mana neh muka gw brooooo, udah nyusahin anaknya terus, sekarang suruh nyusahin ortu loe, ada ide lain? Dion memelas dan tak berharap ide yang memalukan itu terlaksana, namun jimmy tetap bersikeras untuk melakukan idenya tersebut, dan meyakinkan Dion kalau ortunya sudah menganggap Dion bagian dari keluarga mereka. “Hahahahahahaha..,ternyata ada malunya juga loe gay, udah tenang aja mereka pasti mau bantuin loe, secara cuma makan malam doang, mereka juga udah anggap loe sebagai anaknya sendiri juga kan. “Terserah loe lah bro,,” Malam dengan suasana yang sejuk, dipenuhi dengan suara selaksa serangga, jangkrik, dan gemerlap kunang-kunang, langit dengan taburan bintang seolah menemani kehadiran sang rembulan , yang pada malam itu datang dengan sinaran, menambah indahnya suasana malam, diselingi suara deburan ombak, seakan semua terkomposisi sebagai paduan suara yang mengalun dengan aturan nada alam nan merdu. Jimmy terduduk di antara bebatuan, dan terderap langkah kaki menuju tempat dimana Jimmy bersandar. “Sungguh pemandangan yang indah, di temani suara-suara alam yang menyejukan hati, menentramkan jiwa , suara yang tak pernah kita temukan di tempat lain, pantai yang membentang luas itu pun seakan ikut meramaikan panorama alam yang memanjakan setiap mata yang melihatnya.” Sepenggal puisi terlontar dari gadis cantik yang berdiri mendekat di samping Jimmy, entah siapa gadis itu, sontak Jimmy terbangun, mencari siapa pemilik puisi tentang alam itu, ternyata dia seorang gadis desa setempat. Namanya Renata, gadis dengan wajah yang begitu cerah seakan ada pancaran aura yang tercipta di saat itu. “Hai,” Jimmy menyodorkan tanganya berharap gadis itu pun membalasnya dengan menjabat tangan Jimmy, namun memang gadis desa yang santun, dan Jimmy yang tidak sombong, mereka pun dengan cepat akrab. Mereka berbincang hinnga larut, tak di sangka ada sepasang hati yang berpadu saat itu meski baru mengenal namun kesan pertama yang begitu mempesona. Saat pagi menjelang Jimmy masih terjaga dalam tidurnya, lelap hingga tak mendengar ocehan ayam jantan yang dengan gagahnya berkokok, kicauan burung-burung, dan terangnya sorotan mentari yang menerobos melewati celah dari kisi-kisi jendela kamarnya. Tiba-tiba terdengar dering handphone yang melantunkan lagu kesukaan Jimmy, dengan rasa malasnya Jimmy meraih handphone tersebut, ternyata Allicia yang membangunkan tidur Jimmy. “Hallloo, siapa? “Hai, kau masih tidur, aku Allicia, kau sudah janji dengan ku bukan? “emmmhhhhh, iya aku tahu,” “Oke aku tunggu ya say,” Jimmy masih meneruskan tidurnya, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar. “Jimmy……….” Suara Allicia terdengar kencang di luar sana, karena memang keluarga yang welcome dengan siapa saja teman-teman dekat Jimmy bisa bebas masuk kekamarnya, di bukakan pintu kamarnya. “ Hai, All, masuk tunggu ya, aku mandi dulu,” “Dasar kamu, aku kira dah bangun dari tadi, cepat ya,” “Hemmmmmm,” Allicia tampak kesal namun ia sadar karena kekesalanya hanya membuat suasana hati Jimmy ga mood. Hari begitu panas terik menyengat hingga terasa membakar setiap pori tubuh,saat itu pun jalanan kota begitu padat, banyak para pejalan kaki di sudut kota tersebut , para pedagang asongan, pengemis jalanan, hingga pengamen yang makin membuat jalanan terasa sesak, namun AC yang terpasang dalam mobil Jimmy begitu kencang hinnga terik pun tak terasa begitu menyengat, hanya saja menyilaukan pandangan Jimmy saat mengendara, tiba-tiba Jimmy teringat akan gadis desa yang bernama Renata,. “Kau benar Renata takkan pernah ku temui pemandangan indah itu di tempat lain,” Jimmy tersenyum seolah tak memperdulikan ada gadis lain disebelahnya. “Hai, Jim, kau baik-baik saja? “Oh, ya I’m fine,” Allicia berfikir Jimmy ingin mengungkap sesuatu kepada dirinya, Allicia pun tersenyum sendiri. “Hai, kenapa sekarang kau yang tersenyum sendiri ga jelas gitu, All? “Apa ada yang kau fikir kan Jim? “Bagaimana kau bisa tahu? Akhirnya Jimmy menceritakan pertemuannya dengan Renata, Gadis cantik yang sangat puitis itu, Allicia termenung seolah mendengarkan cerita Jimmy namun dalam gumamnya. “hufft, aku fikir kau akan mengunkapkan sesuatu untukku ternyata memikirkan wanita lain yang ga jelas,” “Halooo….” “ Kau mendengarkan ceritaku atau melamun All? “Ohh, ya aku mendengarkan, terharu makanya aku sampai melamun,” “Hah apanya yang haru, All? Allicia mengalihkan pembicaraan agar tak ketahuan oleh Jimmy, Allicia mencoba membahas tentang Dion dan Gladis, sampai akhirnya mereka tiba di resto tempat yang Jimmy janjikan pada Allicia. Setelah selesai Jimmy mengantar Allicia pulang ke rumahnya. Malam dengan cuaca yang begitu bersahabat meski hawa dingin menusuk tulang, Jimmy menancapkan gas mobilnya menuju bukit terjal itu, berharap kembali bertemu gadis cantik nan puitis itu, nampaknya Jimmy tersandung cinta Renata, cinta pada pandangan pertama, cinta yang tak pernah terencana, namun seraya Renata mengetahui akan kedatangan pengeran tampan, dia telah duduk sendiri di bebatuan itu, rambut yang terurai lurus, dengan gaun putih sampai menutupi seluruh kakinya, seperti layaknya sang putrid raja menanti sang pangeran, Jimmy mendekat dengan gagahnya namun sebelum sempat sampai di dekat gadis itu. “Aku telah menunggumu disini sejak tadi,” “Ternyata kau mengetahui akan kedatanganku Ren? “Ya, karena malam ini begitu indah bukan, siapa yang tidak tergoda melihat pemandangan alam yang indah itu,” “Kau memang benar Ren, apalagi ditambah dengan kehadiran wanita cantik sepertimu,” Jimmy mulai mengeluarkan kata-kata gombal ala Dion, mereka berbincang hingga larut, namun keduanya tertidur dengan posisi masing-masing saling memeluk diatas bebatuan itu, malam itu mereka memadu kasih dan berikrar tuk saling mencinta. Pagi telah menyapa sinar mentari yang begitu menyengat menyilaukan mata Jimmy hingga akhirnya ia terbangun, Jimmy meraba-raba seolah mencari sesuatu disisnya namun yang dicari tak jua didapati, ya Renatalah yang ia cari tapi dia pergi tanpa membangunkan Jimmy, bingung menyelimuti fikirannya. Siang itu Dion berkunjung ke rumah Jimmy yang telah gundah memikirkan sang ratu yang dengan tiba-tiba pergi meninggalkan pelukanya malam itu. “Jim, what”s up bro? Jimmy menceritakan panjang lebar tentang bukit terjal, puisi alam dan gadis cantik yang tanpa diundang datang menghampiri setelah itu pergi tanpa diusir dengan sendirinya gadis cantik yang telah menjadi ratu untuknya malam itu. Dion mulai mengaplikasikan penjelasan sahabatnya, seraya dia mengerti apa yang telah terjadi di bukit itu, Dion pun mulai mangajak Jimmy berkunjung ke bukit itu pada siang hari, Jimmy tak mengetahui apa gerangan yang akan di buat sahabatnya tersebut, mereka mulai bertanya ke rumah penduduk yang tidak jauh dari bukit terjal tersebut. Setelah bertanya kebeberapa rumah, yang mengatakan di bukit itu sering Nampak sesosok wanita cantik dengan rambut lurus memakai gaun putih layaknya seorang Cinderella, mereka masih penasaran pada akhirnya mereka bertanya pada seseorang ibu paruh baya yang sikapnya santun seperti Renata. “Permisi bu, mau tanya, apa di daerah sisni ada yang bernama Renata? “Ada apa mencari Renata? “Saya kekasihnya bu,” Ibu paruh baya itu terdiam, matanya hanya melihat tubuh Jimmy dari ujung rambut hingga ujung kakinya, seolah pemuda yang ada tepat di depanya itu tak asing. “Kamu mirip sekali dengan Rio,” Jimmy dan Dion saling menatap tak tahu apa yang dimaksud ibu paruh baya itu, seakan menyimpan rahasia. Ibu paruh baya itu menjelaskan semua tentang Renata anak sulungnya yang telah meninggal dengan cara bunuh diri di bukit terjal itu, karena sang pujaan hati yang bernama Rio atau lebih tepatnya tunangan Renata pergi terlebih dahulu karena kecelakaan pesawat, pesawat yang Rio tumpangi jatuh di tengah laut dan semua penumpangnya meninggal tanpa di temukan mayatnya, Renata putus asa karena rencana pernikahanya batal akibat kecelakaan pesawat tersebut. Jimmy dan Dion mulai memahami mengapa Renata menemui Jimmy, itu karena wajah Jimmy mirip dengan Rio. Dan mengapa arwah Renata masih berada disekitar bukit, itu karena Renata menunggu Rio kembali, dan tempat itu juga karena tempat meninggalnya Renata. Mereka pun pergi meninggalkan tempat itu, dalam perjalanan kembali pulang Jimmy hanya terdiam fikiranya kosong seakan masih tak percaya apa yang telah ia alami, seorang gadis yang telah ia cintai ternyata hanya seorang hantu wanita bernama Renata. Sebagai seorang sahabat dekat Dion tak tinggal diam dia mencoba menghibur agar sahabatnya tak terlarut dalam ketidak percayaannya itu, berbagai cara telah Dion lakukan , karena memang Dion orang yang pandai mengeluarkan kata-kata, candaanya pun terkadang membuat sahabatnya tertawa terbahak, hingga Dion mencoba menyuruh Jimmy membuka hati untuk Allicia, namun Jimmy tak pernah bisa karena dia tak mencintai Allici. Jimmy kembali dengan hari-harinya meski masih tak percaya apa yang telah terjadi pada dirinya yang tersandung cinta Renata. Allicia masih dengan pengharapanya mendapatkan cinta Jimmy, meski Jimmy tak pernah memberi harapan namun Aliicia tak pernah berhenti untuk mencari perhatiannya. Dion sahabatnya pun masih tetap menjadi benalu dalam hidup Jimmy meski telah menikah dengan Gladis namun tetap saja meminta bantuan Jimmy sahabatnya yang tidak sombong dan baik hati namun tak pernah bisa menabung. “Bagaimana bisa nabung kalo Dion masih terus-terusan menjadi benalu dalam hidup gw………” “TAMAT”

Komentar

  1. Aku sudah membaca.....dari awal sampai akhir....BAGUS...meski jalan ceritanya agak sedikit dipaksain....
    Trus,..dikemanain...itu semua blog2 kamu...??? Jangan di hapus dong....??? Biarkan saja...Balikin Ya... Matur Nuwun sanget...

    BalasHapus
  2. jiahhh udah terhapus des ga bs di balikin lg, yadah tar bikin baru aj lg trus kmu koment lg

    BalasHapus
  3. Semangat Hidupku jadi Mati....

    Mestinya kan masih ada...tersimpan ..!! kan tersimpan otomatis ...

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

RENA DAN PANGERAN CUPU

*LARUT*

"sebelum dirinya pergi"